Sudah lazim jika Indonesia kebanjiran produk impor, terutama dari China.
Produk impor China akan banyak ditemui ini adalah barang jenis "murah
asal kenyang".
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku tidak
mengkhawatirkan masalah ini menjadi bumerang. Indonesia adalah pangsa
pasar terbesar dengan pertumbuhan kosumsi domestik terbesar.
"Saya
tidak terlalu khawatir jadi bumerang selagi ada upaya yang bisa
dilakukan oleh Indonesia untuk menahan laju impor yang membahayakan
konsumen," kata Gita di Jakarta Theater Building, Sabtu (20/10/2012).
Berdasarkan
data yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), impor pada Mei 2012
mencapai US$ 17,2 miliar. Nilai impor ini bahkan lebih tinggi
dibandingkan nilai ekspor pada Mei 2012. Ekspor Mei 2012 justru turun
menjadi US$ 16,72 miliar.
Gita menjelaskan, karena krisis
ekonomi berkepanjangan yang terjadi di Amerika dan Eropa membuat
barang-barang China sulit masuk kesana. "Mereka (Eropa dan Amerika)
banyak yang menutup, sehingga mau tidak mau China melempar produknya
keluar, salah satunya ke Indonesia," tuturnya.
Negara pemasok
barang impor non minyak dan gas bumi terbesar selama Januari- Mei 2012
masih ditempati China dengan nilai US$ 11,89 miliar, dengan pangsa
19,29%. Berikutnya adalah Jepang US$ 9,66 miliar (15,67%) dan Thailand
US$ 4,73 miliar.
"Yang dilakukan pemerintah adalah pengendalian
terhadap impor bahan baku yang sudah bisa dibuat di dalam negeri. Selain
itu kita punya kebijakan safe guards dan anti dumping," ujar Gita.
No comments:
Post a Comment