JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom A Tony Prasetiantono menilai wajar bila keputusan Standard&Poor's untuk memberikan peringkat layak investasi terkendala kebijakan Pemerintah terkait bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Menurut dia, Pemerintah bisa mengatasi kekhawatiran S&P itu seiring dengan kondisi harga minyak mentah yang kian menurun belakangan ini. "Saya bisa mengerti bahwa soal subsidi BBM menjadi ganjalan pemberian rating investment grade oleh S&P. Itu logis karena subsidi yang terlalu besar membahayakan fiscal sustainability," sebut Tony kepada Kompas.com, Selasa (24/4/2012).
Namun, kata dia, ada perkembangan menarik dalam sepekan terakhir ini. Harga minyak mentah Brent tertekan turun ke 118 dollar AS per barrel. Penyebabnya yakni pasar dunia mulai rasional. Dengan harga minyak tinggi besar potensinya terjadinya perlambatan ekonomi dunia. Akibatnya, permintaan minyak mentah turun. "Alasan lain, buffer stock minyak AS ternyata lebih besar daripada perkiraan, ini menyebabkan tekanan harga minyak turun," tambah Tony.
Dengan situasi ini, lanjut dia, maka harga minyak tampaknya akan tertahan atau berhenti berakselerasi. Namun demikian, sulit juga membayangkan harga minyak di bawah harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 105 dollar AS seperti yang dipatok dalam APBN-P 2012 terpenuhi. "Kalaupun meleset masih dalam batas yang wajar," sambungnya.
Bila kondisi tersebut terjadi, kekhawatiran S&P bisa dimentahkan Pemerintah. "Saya yakin investment grade S&P cuma soal waktu saja. Terinterupsi sedikit oleh ketidakpastian harga BBM," pungkasnya.
Seperti diwartakan, S&P pada Senin (23/4/2012), melakukan afirmasi peringkat kredit Indonesia tetap pada level BB+ untuk jangka panjang dan B untuk jangka pendek dengan outlook positif.
Dalam siaran persnya, S&P menyatakan bahwa Indonesia punya kelemahan pada kondisi ekonomi dan institusional. S&P menyatakan telah terjadi ketidakpastian kebijakan akibat adanya penangguhan kenaikan tarif listrik yang telah direncanakan dan ketidakmampuan untuk menerapkan pemotongan subsidi BBM di tengah kenaikan harga minyak dunia, serta sejumlah langkah kebijakan yang diusulkan di bidang industri dan perdagangan.
Akan tetapi, gambaran ekonomi yang masih positif mencerminkan kemungkinan upgrade. Ini bisa terjadi apabila pertumbuhan ekonomi dapat terus meningkat, pasar keuangan yang semakin dalam, dan penerapan kebijakan yang terukur.
No comments:
Post a Comment